Dita mengangguk, belum sepenuhnya mengerti arti berat dari pesan itu. Tapi ia tahu, Tanti selalu menjadi tempat teraman kedua setelah orang tuanya.
Tapi di balik kebersamaan yang hangat itu, Tanti menyimpan kegelisahan. Adik iparnya baru saja dirawat di rumah sakit, dan kakaknya kewalahan mengatur biaya pengobatan. Tanti diam-diam sudah menyiapkan amplop berisi uang untuk membantu. tante dan keponakan
Setiap akhir pekan, Tanti selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah kakaknya. Bukan karena ada keperluan penting, melainkan karena ia sudah tidak sabar bertemu dengan keponakan semata wayangnya, Dita. Dita mengangguk, belum sepenuhnya mengerti arti berat dari
Tanti tertawa. “Tebak. Tante bawa kue bolu kesukaanmu.” Adik iparnya baru saja dirawat di rumah sakit,
Sebelum pulang, Tanti mencium kening Dita. “Tante sayang kamu,” bisiknya.
“Ada oleh-oleh untuk Dita?” tanya Dita dengan mata berbinar.
Tanti melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Ada bahagia karena bisa menghibur, tapi juga ada haru karena ia tahu, menjadi tante bukan hanya tentang membawa kue bolu—tapi juga tentang menjadi pilar saat badai datang. Would you like a version with a different tone (e.g., funny, dramatic, or formal), or a translation into English?